Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Publikasi Online

Highlight

Katam
UPBS
PHLS
300 Inovasitektan
BPTPI
MKRPL

Polling

Bermanfaatkah website kami?
 

Tamu online

Terdapat 3 Tamu online
Optimalisasi Sumberdaya Lahan Sawah Dalam Perspektif Peningkatan Index Pertanian PDF Cetak E-mail
Oleh Admin   
Jumat, 29 Mei 2009 21:59

PENDAHULUAN. Luas lahan sawah di Sultra pada tahun 2005 yaitu 79.649 ha dengan produktivitas 39,05 kuintal per ha (BPS, 2005). Lahan sawah tersebut  mempunyai peranan yang strategis baik dalam penyediaan dan program ketahanan pangan, penampungan tenaga kerja, maupun  sumber pendapatan petani.  Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal yaitu hanya ditanami padi satu atau dua kali setahun. Walaupun demikian, upaya untuk meningkatkan pendapatan petani, salah satunya yakni memanfaatkan  sumberdaya  sawah secara optimal, melalui perbaikan teknologi pola tanam.  Pada lahan irigasi  di Sultra pola tanam yang dianut petani pada umumnya adalah padi-padi-bero (Shagir Sama et. al., 1997 dan Idris 1999).  Palawija (kedelai, kacang tanah dan jagung) hanya ditanam secara sporadis dan dalam luasan kecil.  Untuk meningkatkan indeks pertanaman lahan sawah dari satu kali padi menjadi satu kali padi satu kali palawija dan satu kali sayuran perlu diupayakan. Peningkatan efisiensi usahatani khususnya tanaman pangan  menjadi tujuan pokok dalam rangka mengimbangi kebutuhan pangan penduduk  yang jumlahnya semakin bertambah. Peningkatan intensitas pertanaman dalam kurun waktu tertentu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi usahatani. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perbaikan pola tanam antara lain bahwa semua kombinasi tanaman yang dibudidayakan hendaknya dapat memenuhi syarat teknis, berorientasi pada pasar dan memiliki potensi sosial tinggi (respon dan partisipasi petani tinggi). Penyesuaian jenis tanaman terhadap iklim maupun cuaca tertentu serta usaha perbaikan pola tanam membutuhkan perencanaan yang tepat serta didasarkan pada pengetahuan yang mendalam  mengenai potensi lahan dan permasalahannya, tingkah laku iklim dan cuaca serta kondisi sosial masyarakat di wilayah pengembangan pola tanam 

TUJUAN.  1.) Mengetahui  paket teknologi PTT pada pola   tanam  padi-padi-palawija, dan 2.) Mengetahui  kelembagaan untuk mendukung usaha tani  dalam pola tanam

KELUARAN .1).Paket teknologi PTT pada pola tanam padi-padi-palawija 2.) Alternatif model  kelembagaan agribisnis usahatani padi-Padi- Palawija.

METODOLOGI.  Pengkajian ini  dilaksanakan pada lahan sawah irigasi teknis di Desa Langgomea Kecamatan Uepai Kabupaten Konawe pada MT 2006  selama  satu tahun dengan pola tanam padi-padi-Kedelai atau padi-padi-Kacang tanah pada daerah pengembangan padi sawah di Sultra dan berada pada wilayah AEZ ; IV ax 1I ketinggian 0-750 m dpl fisiografi: dataran , penampang tanah: dalam sampai sangat dalam, jenis tanah yang terdapat fisiografi tersebut adalah Endoquents dan Endoaquepts, yang keduanya berdrainase buruk (Puslittanak, 20  Cakupan kegiatan terdiri dari dua sub kegiatan yaitu 1.  Identifikasi varietas unggul padi sawah dan  jagung yang mendukung pola tanam pada lahan  sawah  di sultra 2. Kajian pola tanam di berbagai agroekosistem lahan sawah  di Sultra. Pengkajian ini menggunakan metoda kaji terap On Farm Client Oriented Research (OFCOR) yang dalam pelaksanaannya bersifat partisipatif  dan dilaksanakan di lahan petani yang dikawal dan dibimbing oleh peneliti, penyuluh dan teknisi. <!--[endif]-->

HASIL DAN PEMBAHASAN. Penerapan Teknologi  oleh  petani pada  pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) pada MT 2006 terdapat 9 komponen teknologi yang diamati yaitu penggunaan benih bermutu, penggunaan bibit muda (15-17) hari,  penggunaan bibit 1-3 per rumpun, penggunaan bagan warna daun  (BWD), penggunaan pupuk kompos (organik), dan pengelolaan air secara berkala, pengendalian hama dan panen (Threser). Produksi gabah pada MT I petani kooperator sebanyak 5.500 kg menjadi 5.936 kg atau bertambah sebanyak  436 kg, sedangkan produksi gabah petani non kooperator bertambah 395 kg yaitu dari 4.410 kg menjadi 4.805 kg.  Selain produksi yang meningkat terjadi juga peningkatan harga jual gabah di tingkat petani.  Harga GKP meningkat Rp 550/kg dari Rp 1.400/kg menjadi Rp 1.950/kg.  Dengan demikian pendapatan petani padi sawah pada MT II lebih tinggi daripada pendapatan pada MT I.  Dilihat dari imbangan antara penerimaan dan biaya produksi, petani kooperator memiliki nilai RCR yang lebih tinggi daripada petani non kooperator pada kedua musim tanam. Dari analisa biaya dan pendapatan, usahatani kacang tanah memberikan nilai keuntungan yang lebih tinggi daripada usahatani kedelai dengan nilai B/C ratio 2,48 dan 1,08 meskipun biaya produksi kacang tanah lebih tinggi.  Hal ini selain disebabkan oleh jumlah produksi yang lebih tinggi juga harga kacang tanah cukup tinggi di tingkat petani, yaitu rata-rata Rp 5.000/kg. Dengan mengoptimalkan lahan sawah dengan tiga kali penanaman menyebabkan terjadi perubahan pendapatan petani padi sawah.  Bila petani hanya memanfaatkan lahan sawah dengan dua kali tanam (padi – padi – bera) rata-rata pendapatan petani selama satu tahun sebesar Rp 8.981.950, namun dengan penambahan satu kali tanam palawija memberikan tambahan pendapatan pada petani sebesar 102,20 % untuk penanaman kacang tanah dan tambahan pendapatan sebesar 65,45 % untuk penanaman kedelai.  peranan kelembagaan dalam pemenuhan input dan output usahatani padi sawah  telah berjalan baik, namun di lain pihak juga terdapat kelembagaan yang belum berjalan baik seperti penyediaan sarana benih padi unggul belum dapat dipenuhi dengan baik.  Petani umumnya menyediakan benih sendiri bahkan jika kekurangan benih diusahakan untuk membeli kepada petani lain karena untuk memperoleh benih yang berlabel belum dapat dilakukan. Penyediaan benih yang bermutu pada tingkat petani disadari pada saat ini belum dapat terwujud secara baik, di sebabkan 2 hal pokok, yaitu 1) kesiapan petani lembaga penyedia benih belum mampu menyediakan kebutuhan petani secara tepat, karena keterbatasan asset (lahan, tenaga dan peralatan) sementara jumlah petani yang dilayani semakin banyak dan tersebar di pelosok-pelosok pedesaan yang kadang-kadang masih sulit terjangkau oleh kendaraan roda empat, 2) kesiapan dan kesadaran petani itu sendiri belum menunjukkan perhatian yang sungguh-sungguh, petani belum bersikap proaktif mencari sumber-sumber benih yang baik. Pada umumnya masih pasif menunggu dropping benih dari PPL atau petugas dari Perum Sang Hyangseri.

  1. Hambatan dalam Peningkatan Indeks Pertanaman di Desa  Langgomea
  2. Kurang tepatnya penerapan jadwal tanam padi  MT II mengakibatkan panen bervariasi.
  3. Tenaga kerja dalam keluarga pada MT III  bersamaan pada penanganan pasca panen dengan penanaman palawija  sehingga untuk penanaman diperlukan  tenaga luar keluarga
  4. Penyediaan benih palawija sangat terbatas
  5. Kondisi iklim tidak mendukung, hujan berkepanjangan sehingga penanaman palawija tertunda sehingga perlu pembuatan drainase

KESIMPULAN

  1. Penerapan teknologi PTT pada pola tanam padi - padi - palawija sebagian besar (70 persen) telah diserap petani.
  2. Produktivitas padi pada dua musim yang dicapai petani koperator lebih tinggi dari pada petani non koperator, yaitu 5.500 kg/ha dan 5.936 kg/ha   dibandingkan dengan 4.410 kg/ha dan 4.805 kg/ha.
  3. Penanaman palawija memberikan tambahan pendapatan pada petani sebesar 102,20% untuk kacang tanah dan 65,45 % untuk kedelai dibandingkan pendapatan petani dengan pola tanam padi – padi – bera.
  4. Kelembagaan yang ada di Desa Langgomea untuk mendukung kegiatan usaha tani belum optimal.
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com